Mengapa Anak Indonesia Rentan Mengalami Stres?


Keluarga / Monday, April 30th, 2018

Tahukah kamu, ternyata gejala stres tidak terjadi pada orang dewasa saja, lho! Catatan lembaga konseling dari Personal Growth menunjukkan bahwa empat dari lima anak dengan usia 2-15 tahun juga rentan mengalami stres. Komisi Nasional Perlindungan Anak menjelaskan bahwa tingginya tingkat stres ini terjadi akibat kurang kepedulian orang tua akan hak anak Indonesia.

Anak

Terkait hal tersebut, Komisi Nasional Perlindungan Anak telah menerima laporan 200 kasus stres pada anak setiap bulannya. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 98% dari tahun sebelumnya.

Menurut survei yang dilakukan oleh Psikolog dan direktur Personal Growth, Dra. Ratih Ibrahim, MM, gejala stres pada anak usia 2-15 mencakup 40% balita dan 60% lainnya adalah usia anak sekolah atau di atas 3 tahun.

“Stres berat terjadi pada anak SD hingga SMA. Umumnya, orang tua mengajak anak mendatangi psikolog karena nilai akademik di sekolah yang terus menurun. Namun, ada juga anak usia 12-15 tahun yang minta ke orang tuanya untuk konsultasi karena merasa membutuhkan psikolog,” ucap Ratih ketika diwawancarai mengenai Gejala Stres pada Anak Balita di restoran Luna Negra, Jakarta (03/12).

Dia juga menjelaskan bahwa tujuan utama mengunjungi psikolog adalah untuk mengembalikan kepercayaan diri anak, bukan fokus pada kegagalan anak seperti turunnya nilai akademik atau alasan anak menolak sekolah.

Meski demikian, praktisi psikologi masih kurang awam, bahkan menjadi stigma di tengah masyarakat Indonesia. Masih ada begitu banyak miskonsepsi bahwa psikolog diperuntukan untuk orang yang memiliki masalah kejiwaan. Pada dasarnya, praktik psikologi bukan seperti yang ada dalam paradigma masyarakat sekarang. Dilansir oleh website kesehatan Hello Sehat, psikoterapis dapat membantu semua orang, khususnya anak-anak untuk mencari solusi atas suatu masalah seperti stres dan depresi.

Gejala stres pada anak Indonesia dapat dipicu oleh banyak hal. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, tercatat bahwa 82,9% penyebab stres pada anak disebabkan oleh kurangnya komunikasi dengan orang tua. Selain itu, aktivitas seperti les dan ekstrakurikuler juga dapat memicu terjadinya stres pada anak. Hal ini disebabkan kegiatan padat yang dijalani anak akan membuatnya kehilangan hak untuk bermain dan bereksplorasi.

Dra. Ratih Ibrahim, MM juga menambahkan bahwa komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangatlah krusial dalam mengurangi gejala stres anak. Ratih memberikan penekanan bahwa pola pengasuhan orang tua yang keliru umum terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Gaya asuh seperti diktator, kurang perhatian, dan kurang demokratis perlu dihindari.

Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa beberapa orang tua juga sering memaksakan kehendak pada sang anak. Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian setiap orang tua adalah mencari cara untuk membangun karakter anak dan menghindari gaya asuh, memaksa seperti mengajarkan membaca dan menulis ketika ia masih di bawah 4 tahun. Pasalnya, pada tahapan usia ini, anak disarankan untuk menikmati masa bermain dan pengembangan karakter.

Faktor lainnya yang dapat menyebabkan anak stres adalah tekanan sosial di rumah dan lingkungan di sekolahnya. “Bullying di sekolah memiliki angka yang tinggi, tidak hanya fisik dan verbal, tapi juga sosial, bahkan bullying juga terjadi di media sosial,” ucap Ratih.

Menurut guru SD di salah satu sekolah di Jakarta, hal sederhana dapat memicu terjadinya bullying di lingkungan sekolah. Sebagai contoh, pertengkaran terjadi akibat jenis tas anak perempuan atau laki-laki yang sudah ketinggalan tren atau permasalahan sederhana lainnya. Hal inilah yang dapat memicu gejala stres pada anak usia sekolah.

Terkait hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga beranggapan bahwa UN sebagai standar kelulusan nasional juga menjadi salah satu penyebab melambungnya tingkat anak stres di Indonesia. Untuk itu, KPAI beranggapan bahwa penghapusan UN dapat membantu pendidikan anak menjadi lebih baik.

Berbagai pilihan tas anak laki-laki dengan harga murah di sini!

“Kalau dari kami memang dari dulu UN itu sebuah proses yang banyak mendapat kritik dari masyarakat sehingga KPAI pernah melakukan survei yang intinya masyarakat merasa bahwa UN itu tidak terlalu signifikan dalam membantu anak-anak dalam pendidikan,” ujar Maria Advianti selaku Komisioner KPAI (11/16).

Sadar akan permasalahan ini, KPAI berharap agar pemerintah dapat merombak sistem pendidikan di Indonesia agar generasi muda dapat bersaing di dunia kerja dengan beragam kemampuan dan etika yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *