Sejarah Perkembangan Coffe Shop

Financial Times melaporkan bahwa, jumlah kedai kopi atau atau coffee shop artisan dan gerai kopi di Indonesia meningkat dua kali lipat terhitung dari 2003. Meningkatnya jumlah kedai kopi ini digadang-gadang tak lepas dari tren gaya hidup “ngopi-ngopi” yang sedang menghinggapi milenial.

Kebiasaan para millennial sekarang yang suka minum kopi yang tak hanya dilakukan di rumah, namun kerap ‘bergeser’ ke tempat lain seperti warung kopi, bahkan ke gerai-gerai kopi modern yang biasa disebut coffee shop, tak ayal membuat gerai kopi terus tumbuh dan semakin banyak disetiap kota di Indonesia.

Bukan tanpa alasan, peningkatan jumlah kedai kopi ini dibarengi dengan adanya pergeseran budaya dalam mengkonsumsi kopi. Terlepas dari banyaknya anggapan bahwa coffee shop hanya tren semata, nyatanya ‘ngopi’ di kedai dan gerai kopi tersebut malah menjadi kebiasaan baru di zaman serba modern ini.

Coffee shop sendiri dinilai memiliki suasana tersendiri yang mampu membuat pembelinya merasa nyaman seakan di rumah kedua. Bahkan, tak jarang banyak yang berkunjung ke coffee shop untuk menyelesaikan pekerjaan, karena kedai kopi dirasa mampu meningkatkan produktivitas.

Apalagi, sekarang ini kopi mulai memasuki era third wave, di mana kopi dianggap sebagai minuman artisan layaknya wine dan orang-orang mulai peduli dengan kisah di baliknya. Jadi, tak mengherankan bila kini orang mulai berbondong-bondong mendatangi kedai kopi untuk menyesap secangkir kopi sambil berbincang bersama barista.

Untuk membuat sebuah kopi selain keahlian barista, mesin pembuat kopi yang mumpuni juga menentukan rasa kopi yang disajikan, karena itulah mesin kopi seperti victoria Arduino belakangan ini menjadi pilihan banyak pengusaha coffe shop untuk dipakai.

Menurut ahli kopi dan salah satu konsultan kopi terkemuka di Indonesia, fenomena ini termasuk wajar.  Meningkatnya tingkat konsumsi kopi juga tidak terlepas dari gaya hidup masyarakat urban yang gemar berkumpul. Dapat dibilang prospek bisnis kedai kopi di masa mendatang masih sangat menjanjikan.

Saat ini kita lihat begitu pesatnya pertumbuhan kedai kopi, terutama di kota-kota besar, sekarang ini masih sekedar memenuhi gaya hidup. Tapi kedepannya justru bisa saja sebaliknya. Kalau minum kopi sudah jadi kebutuhan, maka fenomena ini akan bertahan dalam waktu lama.

Pada sejarahnya dulu, kedai kopi sudah ada sejak zaman dahulu, melebar dan melebur menjadi budaya dan ritual manusia dalam cangkir-cangkir kopi. Melansir Ottencoffee, kedai kopi pertama di dunia tercatat dan diketahui muncul pada tahun 1475 di Kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) beranama Kiva Han.

Kedai kopi ini diketahui menjadi coffee shop pertama yang buka dan melayani pengunjungnya dengan kopi khas Turki. Pada masa itu, kopi adalah unsur penting dalam kebudayaan Turki. Kopi di Turki ini disajikan kuat, hitam dan tanpa filter.

Kemudian, di tanah Eropa sendiri, kedai kopi dibuka pada 1529 oleh Franz Georg Kolschitzky. Usut punya usut, sebelumnya kedai kopi itu dibuka, Kota Wina Austria diserbu oleh tentara Turki. Dan para tentara ini meninggalkan banyak sekali pasokan kopi di Wina pada saat mereka melarikan diri dari Wina.

Kolschitzky sendiri juga ternyata dulu pernah tinggal di Turki dan dia merupakan satu-satunya orang di Wina yang mengetahui betapa berharganya biji kopi mengingat tidak popularnya kopi pada masa itu. Di kedai kopinya ini Kolschitzky memperkenalkan gagasan minum kopi dengan menggunakan penyaring dan juga menikmati kopi dengan susu dengan gula.

Lalu di Indonesia sendiri, menurut laman coffeeland, kedai kopi sudah ada sejak empat abad yang lalu, tepatnya ketika India mengirimkan bibit biji kopi Yemen atau yang dikenal dengan Arabica kepada Pemerintahan Belanda di Batavia pada tahun 1696.

Warung Tinggi Tek Sun Ho disebut sebagi kedai kopi pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1878. Kedai kopi ini sebelumnya bernama Tek Sun Ho yang didirikan oleh Liaw Tek Soen

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *